
Di tengah lonjakan harga HP flagship dan tantangan ketersediaan memori, memiliki perangkat yang mudah diperbaiki menjadi nilai tambah yang signifikan. Kemudahan ini memungkinkan pengguna untuk memperpanjang masa pakai perangkat mereka.
Sayangnya, tren industri manufaktur HP justru bergerak ke arah yang berlawanan. Untuk membuat bodi HP lebih tipis dan elegan, produsen menggunakan berbagai teknologi. Salah satunya adalah perekat yang kuat. Mereka juga menyusun komponen internal dengan tata letak yang rumit. Langkah ini membantu produsen menghadirkan desain ramping sekaligus memenuhi standar tahan air.
Laporan Public Interest Research Group (PIRG) bahkan memberikan nilai rendah pada kemudahan perbaikan sejumlah merek besar. Apple mendapat nilai D-minus, Samsung D, dan Google C-minus. Berikut beberapa HP populer yang sulit diperbaiki sendiri berdasarkan analisis iFixit.
Also Read
1. Apple iPhone 14: Desain Elegan, Perbaikan Rumit

Secara fisik, pengguna cukup mudah membongkar iPhone 14. Kaca belakangnya juga dapat dilepas. Namun, tantangan utama justru muncul pada aspek perangkat lunak.
Apple menerapkan teknologi bernama parts pairing. Sistem ini memasangkan komponen penting, seperti layar dan baterai, dengan logic board perangkat. Akibatnya, pengguna kesulitan memakai komponen bekas atau produk pihak ketiga. Dalam kondisi tertentu, sistem bahkan dapat membatasi fungsinya.
Komponen asli Apple pun bisa memunculkan peringatan unknown part jika proses pemasangannya tidak sesuai. Kondisi ini dapat memengaruhi fitur penting. Contohnya adalah Face ID, True Tone, dan Battery Health. Akibatnya, pengguna sering harus mengunjungi pusat servis resmi Apple. Biaya perbaikannya pun tidak murah.
Sebagai gambaran, penggantian layar iPhone 14 standar bisa mencapai US$279 atau sekitar Rp5 juta. Biaya untuk varian Pro bahkan dapat melampaui US$300 atau sekitar Rp5,5 juta.
Apple mulai memperbaiki sejumlah kendala tersebut pada iPhone 15 dan generasi berikutnya. Meski begitu, beberapa batasan perbaikan masih bergantung pada model dan jenis komponen.
2. Samsung Galaxy Z Fold7: Desain Tipis, Servis Sulit

Samsung Galaxy Z Fold7 menawarkan desain yang sangat tipis untuk sebuah HP lipat. Pencapaian ini membuat tampilannya terlihat modern dan elegan. Namun, desain ramping tersebut membawa tantangan tersendiri saat proses perbaikan.
Samsung menggunakan perekat kuat untuk menjaga komponen internal tetap pada tempatnya. Teknisi harus melewati beberapa tahap rumit untuk mengakses kedua baterainya. Mereka perlu membuka panel belakang, melepas sejumlah sekrup, dan mencabut kabel fleksibel.
Setelah itu, teknisi masih harus melepaskan baterai yang menempel kuat. Perangkat ini menyediakan pull tab untuk membantu proses tersebut. Namun, bagian penarik itu bisa putus jika teknisi menariknya secara tidak hati-hati.
Layar bagian dalam juga menjadi tantangan besar. Bezel plastik di sekelilingnya menggunakan perekat yang kuat. Sementara itu, layar OLED fleksibel sangat rentan mengalami kerusakan saat teknisi melepasnya.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak mencoba mengganti layar bagian dalam sendiri. Proses tersebut berisiko merusak layar maupun komponen di sekitarnya. Penggantian modul layar dan rangkanya juga dapat menelan biaya yang sangat besar.
3. Nothing Phone 3: Desain Transparan yang Menyulitkan

Nothing Phone 3 memperoleh skor kemudahan perbaikan yang rendah dari iFixit. Perangkat ini mendapat nilai 3 dari 10, setara dengan Samsung Galaxy Z Fold7.
Desain belakangnya yang transparan memang memperlihatkan sejumlah sekrup internal. Namun, tampilan tersebut tidak menjamin proses pembongkaran menjadi mudah. Produsen merekatkan kaca belakang dengan sangat kuat.
Bahkan setelah pengguna melepas sekrup yang terlihat, panel belakang masih sulit dibuka. Beberapa sekrup tersembunyi di balik stiker dekoratif. Pengguna juga akan kesulitan melepas stiker tersebut tanpa merusaknya. Memasang kembali stiker dengan rapi pun bukan perkara mudah.
Baterai Nothing Phone 3 juga menempel kuat pada bagian dalam bodi. Komponen ini menggunakan pull tab yang berisiko putus saat proses pelepasan. Sementara itu, perekat pada layar meningkatkan risiko kerusakan ketika pengguna mencoba membongkarnya.
Masalah lainnya terletak pada ketersediaan dukungan perbaikan. Nothing belum menyediakan panduan perbaikan resmi dan suku cadang yang mudah diakses untuk semua kebutuhan perbaikan mandiri. Kondisi ini semakin menyulitkan pengguna yang ingin memperbaiki perangkatnya sendiri.
4. Google Pixel Fold: Komponen Rapat, Risiko Kerusakan Tinggi
Google telah bekerja sama dengan iFixit untuk menyediakan suku cadang resmi bagi perangkat Pixel Fold. Pengguna dapat memperoleh komponen seperti baterai dan layar. Namun, ketersediaan suku cadang tidak serta-merta membuat proses perbaikan menjadi mudah.
Menurut laporan iFixit, penggantian layar bagian dalam dapat memakan waktu tiga hingga empat jam. Sementara itu, penggantian baterai membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Susunan komponen yang rapat menjadi salah satu penyebabnya.
Perekat juga membuat sejumlah bagian sulit dilepas. Meski begitu, kekuatannya tidak selalu menyamai perekat pada Samsung Galaxy Z Fold7.
Beberapa komponen juga menyatu dengan bagian lain. Salah satu contohnya adalah port USB-C yang disolder langsung ke motherboard. Akibatnya, kerusakan pada port tersebut dapat membuat proses perbaikan menjadi lebih rumit. Dalam kondisi tertentu, teknisi mungkin perlu mengganti motherboard sekaligus. Biaya penggantian komponen ini tentu tidak sedikit.
Google tidak menerapkan sistem penguncian komponen yang sama persis dengan Apple pada iPhone 14. Namun, kesalahan saat membongkar Pixel Fold tetap dapat merusak perangkat secara permanen.
Karena itu, pengguna sebaiknya menyerahkan perbaikan Pixel Fold kepada teknisi profesional yang berpengalaman. Langkah ini membantu mengurangi risiko kerusakan tambahan selama proses servis.
Kesimpulan
Keempat HP tersebut menunjukkan bahwa desain premium tidak selalu membuat perangkat mudah diperbaiki. Perekat kuat, susunan komponen yang rapat, dan keterbatasan perangkat lunak dapat mempersulit proses servis.
Karena itu, pertimbangkan kemudahan perbaikan sebelum membeli HP baru. Perhatikan juga harga suku cadang dan ketersediaan pusat servis resmi. Dengan begitu, Anda dapat memperkirakan biaya perawatan perangkat dalam jangka panjang.
Bagaimana menurut Anda? Apakah ada HP lain yang menurut Anda sulit diperbaiki sendiri? Silakan bagikan pendapat Anda di kolom komentar.







