
Eks CEO Apple, Tim Cook, mengindikasikan bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dapat memicu kelangkaan memori DRAM. Menurutnya, kondisi tersebut sulit dihindari.
Kelangkaan DRAM dapat meningkatkan biaya produksi perangkat seperti iPhone. Kondisi ini pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga bagi konsumen.
Meskipun awalnya lonjakan harga komponen ini tidak serta-merta berdampak pada seluruh jajaran produk Apple, laporan terbaru menunjukkan bahwa iPhone pun tak luput dari imbasnya, terutama pada lini perangkat teranyar. Fenomena ini menjadi semakin nyata ketika data dari rantai pasok mengungkapkan kesepakatan harga antara Apple dan Samsung untuk memori DRAM.
Also Read
Apple dilaporkan menyepakati kontrak pengiriman tahun depan dengan harga USD 2 per Gigabyte. Harga tersebut naik tajam dari harga saat ini yang berada di sekitar USD 1,50 per Gigabyte. Upaya Apple sebelumnya untuk meredam kenaikan harga dengan menanggung sebagian beban dan mengoptimalkan efisiensi rantai pasok kini menemui batasnya.
Dampak Lonjakan Permintaan Memori DRAM

Analisis rantai pasok memproyeksikan kenaikan permintaan memori DRAM sebesar 36,2%. Sementara itu, pasokan diperkirakan hanya tumbuh 19,3%.
Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara permintaan dan pasokan. Permintaan yang terus meningkat dapat memperlebar kesenjangan pasokan dan kebutuhan DRAM. Kesenjangan pasokan DRAM diperkirakan meningkat dari 8,1% pada 2026 menjadi 13,6% pada 2027.
Implikasinya, pengguna iPhone perlu bersiap menghadapi kenaikan harga rata-rata sekitar USD 100 (setara dengan Rp 1,7 juta) untuk lini iPhone terbaru. Varian dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, seperti iPhone Duo dengan opsi 2TB, bahkan berpotensi menembus angka fantastis USD 3.000 (sekitar Rp 53,2 juta).
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada iPhone. Produk elektronik konsumen lain yang menggunakan komponen memori juga berpotensi mengalami kenaikan biaya.
Akar Masalah: Investasi Besar-besaran di Sektor AI

Investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi penyebab utama kelangkaan memori DRAM. Saat ini, produsen memori global memprioritaskan produksi wafer untuk High Bandwidth Memory (HBM). Komponen ini sangat penting untuk mendukung kinerja pusat data AI.
Perusahaan teknologi seperti NVIDIA, OpenAI, Microsoft, Google, hingga SpaceXAI terus meningkatkan pembangunan pusat data berskala besar. Kondisi tersebut mendorong permintaan HBM semakin tinggi. Apple juga membutuhkan solusi Private Cloud Compute. Namun, perusahaan yang mengembangkan AI membutuhkan kapasitas memori lebih besar daripada Apple.
Akibatnya, produsen mengurangi kapasitas manufaktur untuk memori konsumen. Mereka mengalihkan fasilitas produksi untuk memproses wafer yang digunakan pusat data. Perubahan tersebut membuat produsen memiliki kapasitas lebih terbatas untuk memproduksi memori bagi perangkat seperti ponsel pintar.
Gelombang AI dan Implikasi Inflasi Komponen

Fenomena investasi AI yang masif ini memicu siklus ekspansi di mana perusahaan-perusahaan besar mengamankan lokasi untuk pusat data, melakukan pembelian awal DRAM, dan perangkat komputasi lainnya, bahkan sebelum infrastruktur tersebut sepenuhnya terbangun. Perusahaan sering membiayai proses ekspansi ini dengan mengandalkan estimasi nilai pusat data di masa depan.
Kondisi ini turut memperkuat spekulasi dan memicu inflasi biaya komponen secara global, seiring dengan pengeluaran modal besar untuk infrastruktur AI yang belum tentu memberikan profit dalam waktu dekat. Produsen berencana menambah kapasitas pabrik memori baru yang akan beroperasi pada 2028 hingga 2029. Namun, permintaan yang terus meningkat dapat kembali menekan pasokan memori.
Meskipun Apple selama ini terbukti tangguh dalam menghadapi krisis pasokan DRAM, pengguna setia iPhone tetap harus bersiap menghadapi kenaikan harga yang signifikan pada peluncuran produk-produk terbaru di masa mendatang.
Apple, iPhone, harga iPhone, memori DRAM, AI, kecerdasan buatan, Samsung, rantai pasok, teknologi, prediksi harga, komponen elektronik









